KPPU Audiensi Kadin Kalteng

Palangka Raya, Dayak News

Komisi Pengawas Persaingan Usaha ( KPPU) perwakilan wilayah  Kalimantan yang berkantor di Balikpapan, Kalimantan Timur ( Kaltim) mengadakan audiensi dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia ( Kadin) Kalimantan Tengah ( Kalteng) di Palangka Raya, Selasa (21/2).Akhmad Muhari, Kepala Kantor Perwakilan Daerah Kalimantan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengatakan audiensi ini menindak lanjuti Memorandum of Understanding ( MoU) anatara KPPU Pusat dan Kadin Pusat guna mensosialisasi agar tidak terjadi persaingan usaha tidak sehat atau munopoli sesuai amanah UU No 5 tahun 1999.

Menurut Akhmad Muhari, berdasar persoalan yang banyak ditangani KPPU, tingkat persaingan atau munopoli lebih menonjol di bidang pengadaan barang dan jasa serta usaha perkebunan dan pertambangan. Sehubungan hal itu,  bagi pelaku usaha yang merasa dirugikan oleh kegiatan persaingan tidak sehat atau munopoli, maka silahkan melapor kepada KPPU.

Identitas pelapor sangat dirahasiakan.Dikatakan, kepada para pelaku usaha diharapkan kewaspadaan agar jangan sampai terjebak menabrak UU No 5 tahun 1999. Seperti proses pengadaan harus murni tidak berdasar kesefakatan.Ketua Kadin Kalteng dalam acara audiensi itu membeberkan, usaha yang dominan di Kalteng benar di bidang perkebunan dan pertambangan.

Sementara secara potensi  Kalteng memiliki 14 Kabupaten/ Kota dengan luas wilayah kl. 15,3 juta ha dengan penduduk 2,5 juta jiwa. Mengenai Propinsi ini banyak orang yang tidak mengira memiliki garis pantai sepanjang 750 km. Berkaitan pertumbuhan ekonomi Kalteng merupakan yang terbaik dibanding Propinsi lainnya di Kalimantan.

Berkaitan dengan UU No 5/1999, tentang persaingan tidak sehat atau munopoli sagat dituntut peran lebih besar lagi dari pihak KPPU. Contoh dalam perdangan gula sudah bukan rahasia yang hanya dikuasi atau dimunopoli oleh tujuh perusahaan. Jika diteliti penguasa gula itu hanya satu lingkaran dalam satu garis keluarga. Sehingga mengatur harga suka-suka mereka saja. Belum lagi usaha lain, misalnya jaringan pertokoan modern hanya namanya saja beda, tapi jika ditelusiri muaranya sebagai pemilik hanya itu saja. (Dapos/001) dayaknews.com