KPPU Balikpapan Temukan Distributor Jual Beras di Atas HET

FOTO: MI/PALCE AMALO

KOMISI Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Balikpapan bersama Bulog Divisi Regional Kalimantan Timur-Utara, Dinas Perdagangan Kota, Dinas Pangan, Bank Indonesia cabang Balikpapan, dan Polres Balikpapan melakukan inspeksi mendadak ke distributor beras di UD Gunung Sari dan UD Surya Wijaya yang terletak di kawasan Jl Mayjen Sutoyo Gunung Malang dan selanjutnya ke Pasar Klandasan.

Dalam sidak itu ditemukan adanya distributor yang menjual harga beras premium di atas harga eceran tertinggi (HET).

“Kita akan tindaklanjuti temuan ini dan Pemkot akan memberikan surat teguran,” ujar Kepala KPD KPPU Balikpapan, Dewi Sita Yuliani, Selasa (23/1).

Ia mengatakan, kini KPPU Balikpapan akan fokus untuk melakukan pendataan jumlah konsumsi dan pasokan beras di Balikpapan sehingga akan menjadi acuan ke depan. Kendati demikian dari hasil sidak dipastikan stok beras di Kaltim aman untuk 1 bulan ke depan.

Apalagi belum lama ini Ketua KPPU Pusat Muhammad Syarkawi Rauf dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan pemantauan di Jawa Timur dan Jawa Tengah akan adanya panen padi dan dengan adanya panen dipastikan stok beras aman.

“Ini bertujuan untuk menstabilkan harga beras,” ujarnya.

Hal yang sama disampaikan Kepala Dinas Perdagangan Kota Balikpapan, Muhammad Soufan, bahwa dalam sidak kali ini ditemukan distributor yang menjual beras di atas HET. Adapun alasan distributor menjual harga beras di atas HET disebabkan adanya biaya tambahan seperti biaya kemasan mencapai Rp2 ribu untuk biaya menjahit dan biaya listrik sebesar Rp600.

“Harga beras medium HET Rp9.850 ribu dan beras premium HET Rp13.300, tapi itu tadi mereka menjual di atas harga HET karena adanya biaya tambahan,” ujarnya.

Produksi beras dari petani Balikpapan hanya bisa memenuhi 360 ton beras dari 36 hektare lahan atau mencapai 0,2% kontribusi beras dari petani Balikpapan.

“Sedangkan kini Kota Balikpapan banyak mengambil beras dari Pulau Jawa dan Sulawesi. Petani di Balikpapan juga berkurang. Yang tidak aktif lagi karena semakin tua, serta tidak ada subsidi benih,” ujarnya. (OL-2)Media Indonesia.com