KPPU Sebut Penjagal Belum Paham Aturan

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Inspeksimendadak (sidak) yang dilakukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Balikpapan mendapati ada tindakan melawan hukum di Rumah Potong Hewan (RPH) Km 5,5, Balikpapan Utara, Jumat (25/5) malam. Di mana para penjagal sapi saling berkoordinasi untuk mengatur dan menentukan harga jual daging di pasaran.

“Kita dapat informasi, untuk pemasok daging di Balikpapan kan pemainnya tidak banyak. Dan ternyata, mereka ini membuat semacam kesepakatan untuk menetapkan harga jual. Ini sudah masuk kartel,” kata Kepala Kantor Perwakilan Daerah KPPU Balikpapan, Abdul Hakim Pasaribu di sela-sela sidak.

Dalam sidak yang berlangsung hingga Sabtu (26/5) dini hari tersebut, juga diikuti Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan serta Satgas Pangan Kaltim. Hakim melanjutkan, meski ada praktik kartel, namun bukan berarti langsung akan dilakukan penegakan aturan. Melainkan lebih dulu diberi pemahaman dan sosialisasi.

“Jadi, para penjagal ini daripada gontok-gontokan dan bersaing soal harga jual, akhirnya ditentukan sajalah, harganya sekian. Sama semua. Mereka tidak tahu, kalau seperti itu secara aturan tidak boleh. Penetapan harga harus berjalan sesuai mekanisme pasar,” tambahnya.

Dia memberi contoh, seorang penjagal akan memiliki ongkos produksi yang berbeda dari penjagal lainnya. Sehingga, seharusnya harga jualnya juga berbeda. “Seharusnya, harga menjadi bersaing secara kompetitif,” imbuhnya. Makanya, ke depan KPPU akan melakukan pembinaan lebih lanjut. Tercatat, hanya ada 15 penjagal yang menjadi pemain tetap di RPH. Mereka yang memasok kebutuhan daging di Balikpapan.

Rantai distribusinya, sapi didatangkan dari Gorontalo maupun Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh pedagang besar antarpulau. Dari pedagang besar antarpulau, kemudian dijual ke pedagang besar yang merupakan penjagal. Kemudian penjagal menjual ke pedagang pasar. Secara rantai distribusi lebih simpel tidak panjang. Sehingga, diharapkan tidak terjadi lonjakan harga sampai Lebaran terlewati.

Apalagi, dalam sidak tersebut, diketahui pasokan dan stok sapi lancar dan cukup. Sapi datang setiap Senin dan Kamis. Sidak ini sendiri sebagai upaya preventif agar tak terjadi kenaikan harga. Apalagi, untuk daging segar sejauh ini pemerintah belum menetapkan harga eceran tertinggi (HET). Berbeda dengan daging beku yang sudah ditetapkan HET-nya sebesar Rp 80 ribu per kilogram.

Daging beku sendiri masuk ke Indonesia dari Australia sudah dalam bentuk beku. Sehingga, ada komponen harga yang pasti. “Artinya kalau masyarakat mau daging beku, toh rasanya juga sama, sudah ada alternatif pilihan,” jelasnya.

Kepala UPT Rumah Potong Hewan Balikpapan Totok Idarto mengakui, saat ini mulai ada kenaikan permintaan. Awal puasa lalu, sehari empat ekor sapi dipotong dan didistribusikan ke pasar tradisional di Balikpapan. “Sekarang sudah 10-20 ekor. Satu ekor sapi kira-kira 80 kilogram daging. Sapi kami datangkan dari Gorontalo,” ucapnya.

Totok juga mengklaim, harga yang dilepas ke pasar tradisional atau ke pedagang tidak ada kenaikan. Masih Rp 120 ribu per kilogram. Terkait harga, dia sebutkan itu kesepakatan dari paguyuban penjagal yang memakai RPH. “Harga mereka yang atur sesuai kesepakatan. Kami tidak ada intervensi di dalamnya. Kami hanya menerima laporan dari mereka saja. Sapi dipotong di sini. Sesuai permintaan pasar,” akunya.

Dia menuturkan, puncak permintaan akan terjadi mulai H-4 sampai H-1 Lebaran. Sehari biasanya bisa sampai 200 ekor sapi dipotong. Pasokan jika ada lonjakan permintaan itu akan diambil dari beberapa daerah lainnya. Seperti dari Palu dan NTT.

“Polanya masih sama seperti dulu. Tidak ada perubahan. Hanya saja, permintaan jika dibanding 2010 terus menurun. Hal ini karena pasokan daging beku yang disebar. Seperti Bulog mereka kan jual daging sapi beku juga. Ya daging beku sekarang jadi kompetitor,” pungkasnya. (aji/rsh2/k15)

Link www.kaltim.prokal.co/read/news/331818-pantas-mahal-ternyata-ada-kartel-di-rumah-pemotongan-hewan.htm