Bibit Udang Masih Didatangkan dari Luar Kaltara

TANJUNG SELOR – Upaya memaksimalkan budidaya udang di Kalimantan Utara (Kaltara) masih belum berjalan maksimal. Petani tambak masih kerap menemukan kendala, di antaranya adalah persoalan mendapatkan benur (bibit) udang itu sendiri.

Bahkan permasalahan bibit ini menjadi atensi Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara. Kepala DKP Kaltara, Amir Bakrie mengatakan, suplai benur lokal hanya mampu memenuhi 30 persen kebutuhan petambak. “Artinya 70 persen harus didatangkan dari luar,” jelas Amir belum lama ini.

Benur tersebut didatangkan dari Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Surabaya, Jawa Timur (Jatim). “Ini terbuang waktu dan ongkos lagi,” tegas Amir.

Menurutnya, kebutuhan bibit tersebut sedikit banyak bisa diatasi oleh Pemprov Kaltara. Mengingat di Tarakan ada pengelolaan Balai Benih Udang. “Tapi asetnya belum diserahkan ke provinsi. Semestinya ini bisa kita manfaatkan untuk pembibitan. Setidaknya tidak terlalu tergantung dengan daerah luar lagi,” paparnya.

Amir berani menjamin jika aset itu diserahkan, Kaltara dapat memenuhi sendiri kebutuhan bibit petambak. Sumber daya manusia (SDM) telah disiapkan. Termasuk mempersiapkan anggaran pengelolaannya.  “Seharusnya ini yang dipikirkan. Kalau sekarang balai benih itu tidak termanfaatkan,” jelasnya.

Bahkan jika lebih diseriusi, tidak menutup kemungkinan Kaltara justru dapat menyuplai benur ke daerah lain. Atau setidaknya cukup memenuhi kebutuhan di Kaltara. “Kami sudah siapkan semua tenaga, juga siap menganggarkan dananya,” imbuh dia.

Ditambahkan, umumnya benur yang didatangkan petambak di Kalimantan Utara adalah benur udang jenis vannamei atau udang kaki putih. “Udang jenis ini tergolong memerlukan teknik budidaya yang intensif,” katanya. “Tapi udang ini tahan dari penyakit,” sambungnya.

Masalah lain, lanjutnya, udang jenis ini belum terkelola dengan baik. Tambak udang ini perlu listrik dalam pengelolaannya. Sisi lain Kaltara masih terkendala pasokan daya ini. Berdasarkan kalkulasi, belum ada 1 persen tambak yang teraliri listrik. Tambak yang terjangkau listrik sebagian kecil yang berada di Kota Tarakan dan Sebatik. “Di luar itu belum sama sekali. Ini juga kendala utamanya,” pungkasnya. Sumber : http://kaltara.prokal.co