Soal Tingginya Harga Tiket Pesawat, Ini Tanggapan KPPU Balikpapan

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Harga tiket pesawat rute domestik yang dinilai tinggi dan tidak rasional membuat masyarakat sebagai konsumen merasa terbebani. Gejolak dari konsumen tersebut sudah mulai terlihat beberapa minggu belakangan ini.

Malah sebagian warga heran dengan rute luar negeri yang lebih murah dibanding dengan rute domestik atau antar kota di Indonesia.

Tingginya harga tiket pesawat tersebut juga dikeluhkan warga kota minyak Balikpapan yang menggunakan moda transportasi pesawat.

Menanggapi fenomena tersebut, Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) Kota Balikpapan angkat bicara soal kenaikan hargatiket pesawat yang sangat tinggi ditiap maskapai penerbangan.

Ketua KPPU Kota Balikpapan Abdul Hakim Pasaribu menjelaskan, saat ini dirinya masih melakukan proses pendalaman guna mencari penyebab utama terjadinya kenaikan yang signifikan pada harga tiket pesawat.

Sementara ini, dirinya masih menduga adanya beberapa faktor yang mempengaruhi maskapai penerbangan tersebut menaikkan harganya.

Salah satunya ia menduga adanya kenaikan Avtur sebagai bahan bakar, sehingga kenaikan bahan bakar tersebut dapat diikuti dengan naiknya tarif tiket pesawat.

Selain itu, adanya dugaan persaingan bisnis antar pelaku usaha maskapai penerbangan juga dapat mempengaruhi kenaikan harga tersebut.

“Jadi semakin sedikit pesaing, maka semakin ketat persaingan bisnisnya. Logikanya, kalau Garuda menaikkan harga, otomatis Lion juga akan menaikkan harganya. Tapi ini masih dalam proses pendalaman kami,” ujarnya.

Lanjutnya, kenaikan harga tersebut sudah terlihat sejak pasca lebaran tahun 2018 lalu, namun baru Desember 2018 kemarin terlihat kenaikan harga tiket pesawat secara signifikan.

Sedangkan ucap dia, untuk menaikkan tarif harga tiket pesawat harus mengacu pada Permenhub RI nomor 14 Tahun 2016 tentang mekanisme formulasi perhitungan dan penetapan tarif batas atas dan batas bawah penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri.

“Kita ambil contoh untuk rute Balikpapan-Jakarta. Untuk rute itu sesuai aturan pemerintah, tarif batas atas sebesar Rp 1.891.000,- dan tarif batas bawahnya Rp 567.000,-. Tapi kenyataannya, tiket pesawat Garuda kalau kita cek di online harganya mencapai Rp 2,2 juta. Itu sudah diluar batas yang ditetapkan pemerintah dan hal tersebut. Patut dipertanyakan kenapa bisa terjadi. Kalau memang ada aturan baru, mungkin bisa dijelaskan aturan apa, namun kalau gak ada aturannya berarti menaikkan harga secara sepihak,” jelasnya, Senin (14/1/209).

Dirinya menerangkan, semestinya harga tiket pesawat saat ini di minggu kedua bulan Januari 2019 ini sudah normal, karena sudah melewati waktu-waktu libur dan memasuki hari biasa. Tapi kenyataan harga tiket hingga saat ini masih tinggi dan tidak kunjung turun.

“Warga sudah resah dengan harga tiket yang melambung tinggi ini,” tuturnya.

Hakim menambahkan, hingga saat ini KPPU Balikpapan masih terus mendalami penyebab utama kenaikan harga tiket pesawat yang sangat meresahkan masyarakat ini.

Terutama melakukan penelusuran terhadap sikap pelaku usaha maskapai di media massa yang menyatakan bersepakat untuk menurunkan harga tiket.

“Ini yang kita sedang telusuri, kenapa ada muncul pelaku usaha menyatakan sepakat untuk menurunkan. Berarti kan sebelumnya ada juga kesepakatan untuk menaikkan. Ini yang perlu kita pertanyakan,” pungkasnya.(Penulis: Aris Joni)