Tarif Bagasi Berbayar Lion Air Ditunda, KPPU Bilang Begini

 

JawaPos.com – Maskapai Lion Air dan Wings Air tampaknya menunda memberlakukan tarif untuk bagasi para penumpang. Dari pantauan Kaltim Post (Jawa Pos Group) di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS), Sepinggan, Balikpapan, Selasa (8/1), penumpang yang check in masih diberikan free bagasi 20 kilogram (kg) untuk Lion dan 10 kg untuk Wings.

Daniela, 30, salah satu penumpang Lion Air mengaku bagasi masih tidak dipungut biaya. “Ada dua barang yang saya masukkan ke bagasi pesawat. Satu koper dan satu kardus berupa oleh-oleh. Ditimbang beratnya sekitar 12 kilogram. Dan tadi saya tidak dipungut biaya bagasi. Masih seperti biasanya,” ucapnya saat ditemui di area Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, Selasa (8/1).

Perempuan yang hendak pergi ke Kendari ini mengaku baru pagi tadi membeli tiket pesawat terbang. Ia berangkat pukul 14.40 Wita. Awalnya ia mengaku mencari petugas di bandara untuk menanyakan terkait adanya biaya bagasi. Pasalnya, dalam berita yang beredar sepekan terakhir, menginformasikan ada pengenaan biaya tarif bagasi Lion Air dan Wings Air.

“Ya kalau naik, saya kurang setuju sih. Soalnya maskapai lainnya masih free bagasi. Apalagi, malah jadi lebih mahal harganya. Mending sekalian saya beli tiket pesawat yang full service,” imbuhnya.

Senada, Sarjono, 39, penumpang pesawat Wings Air rute Banjarmasin mengaku belum mendapat pungutan tarif bagasi. “Saya check in tadi tidak ada diminta uang bagasi. Masih free 10 kg. Saya sempat menghitung kalau membawa barang 20 kg, bisa menambah biaya hingga Rp 700 ribuan. Tapi tadi masih gratis,” terang pria yang bertugas sebagai protokoler Kodam VI/Mulawarman ini.

Ia mengaku, Senin (7/1) lalu mendapatkan informasi bahwa Lion Air dan Wings Air menunda penerapan tarif bagasi. Dari informasi yang ia dapat, akan ada perpanjangan 60 hari lagi. Jeda waktu tersebut digunakan pihak maskapai untuk menyosialisasikan kebijakan baru ini. “Nantinya bakal dikenakan atau tidak saya tidak tahu,” ungkapnya.

Sementara itu, petugas counter check in Lion Air Bandara Sepinggan Balikpapan, Irfan R menyatakan hari ini masih free 20 kg. Dari pagi tadi hingga siang, layanan masih seperti biasa. “Besok kemungkinan masih belum berlaku. Sebab, manajemen belum menyosialisasikan. Kami hanya menjalankan tugas, kalau ada perintah ya kami jalankan. Tapi sejauh ini belum ada,” terangnya.

Pihak manajemen Lion Air masih belum bisa dikonfirmasi atau memberikan keterangan resmi terkait aturan ini. Namun, dari pantauan di area Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan kondisi check in Lion Air masih seperti biasanya. Tidak ada penumpukan atau sesuatu yang tidak diinginkan.
Sementara itu, Aiport Manager Lion Air Cabang Tarakan Muhammad Arif membenarkan adanya penundaan bagasi berbayar tersebut sampai pemberitahuan lebih lanjut. “Seharusnya sudah dilakukan hari ini (kemarin, Red), tetapi dilakukan penundaan. Penundaan juga kami tidak tahu sampai kapan,” kata Arif kepada Radar Tarakan (Jawa Pos Group), Selasa (8/1).

Sosialisasi akan terus dilakukan sampai ketentuan baru keluar. “Jadi masih tetap mendapat jatah bagasi free sebanyak 20 kg untuk Lion Air dan 10 kg untuk Wings Air,” ujarnya.

Boleh Dikenakan, Asal Service Sesuai

Terpisah, Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) Balikpapan menilai, kebijakan tersebut memunculkan potensi maskapai lain di kelas low cost carrier (LCC) untuk mengikuti. Ketua KPPU Balikpapan Abdul Hakim Pasaribu mengatakan, saat ini wewenang pihaknya tidak bisa lebih dalam. Namun, tetap akan memantau pergerakan maskapai lainnya.

Sebab, bisa terjadi kartel kalau maskapai lain ikut menerapkan kebijakan serupa. “Selain itu, kami menampung suara dari konsumen terkait Lion Air ini,” tuturnya.

Jika mengacu peraturan Menteri Perhubungan, kebijakan Lion Air dan Wings Air ini sebenarnya sah saja dilakukan. Dalam Peraturan Menteri (PM) Perhubungan Nomor 185 Tahun 2015 menjelaskan, bagasi untuk jenis penerbangan LCC bisa dikenakan biaya. Sementara jika ada barang bawaan penumpang yang ukurannya kecil bisa disimpan di bagasi kabin.

“Tapi kan itu harus ada persetujuan menteri dulu. Jangan asal saja. Kalau tidak kan bisa saja menimbulkan kegaduhan. Saya tidak mengerti apa yang dilakukan manajemen Lion Air ini. Hitung-hitungannya masih belum tahu. Penerapan tarif bagasi ini bisa saja menjadi bumerang bagi mereka,” tuturnya.

Ia menyoroti layanan servis yang dimiliki Lion Air masih sangat jelek. Bahkan dari maskapai lain, Lion Air ini paling buruk. “Ya kalau mau naik atau menerapkan tarif bagasi benahi dulu layanan servisnya. Kalau masyarakat mengeluhkan layanan kan tidak sebanding dengan apa yang mereka keluarkan,” tuturnya.

Sejauh ini, pihaknya masih melakukan pemantauan. Sebab, jadi atau tidaknya kebijakan tersebut masih belum jelas. Ia mengkhawatirkan akan terjadi kegaduhan. Apalagi kalau tidak disosialisasikan dengan baik. Terutama masyarakat yang emosinya tinggi. “Ya kita tidak tahu itu. Tapi, kami berusaha menjaga agar iklim usaha yang ada berjalan baik,” tutupnya.(editor: Fadhil Al Birra)